Pentingnya Guru Sebagai Sanad Dalam Ilmu Agama
Bangkalan, tahtaberita.com - Juni 02/2026, Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, karena beramal tanpa ilmu adalah tertolak. ilmu dapat memudahkan ummat muslim menuju surga Allah SWT.
Ketahuilah, hanya amal ( Perbuatan Ibadah ) orang yang berilmu yang dapat jaminan kebenaran dari Allah SWT, dan hanya orang yang berilmu lah yang di janjikan untuk senantiasa di tinggikan derajat nya nanti di sisinya.
Dengan demikian, betapa penting ilmu, karena ilmu adalah penentu segala kesuksesan. dalam mencari ilmu agama, dianjurkan harus memiliki guru yang mempunyai kapasitas dan sanad ( ketersambungan ) keilmuan yang jelas, karena sanad merupakan mata rantai untuk bersambung kepada tuhan ( Allah ) dan Rasulnya.
Fenomena di zaman sekarang ini yang membuat prihatin adalah, banyaknya muslim yang kurang hati-hati dan selektif dalam memilih ulama atau ustaz dalam belajar agama, mirisnya dalam meraih ilmu agama hanya dengan narasi AI, medsos dan sebagainya.
Seseorang yang sedang sakit saja, maka ia akan sangat hati-hati dalam mencari dokter sekaligus rumah sakit yang akan merawatnya.
Ia akan lebih memilih dokter spesialis yang berpengalaman untuk membantu mencapai kesembuhan. Lalu, kenapa dalam urusan agama kita tidak melakukan hal yang sama?
Abdullah bin Mubarak sebagaimana dikutip oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya, beliau berkata:
الإسنادُ مِنَ الدِّينِ، ولولا الإسناد لَقالَ مَن شاءَ ما شاء
Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, pasti siapapun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki.
Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, mengutip perkataan ‘Uqbah bin ‘Aamir berkata :
تَعَلَّمُوا قَبْلَ الظَّانِّينَ يَعْنِي الَّذِينَ يَتَكَلَّمُونَ بِالظَّنِّ
Menuntut lah ilmu sebelum kamu berada di masanya orang yang berbicara ilmu hanya bermodalkan prasangka.
Ucapan ‘Uqbah bin ‘Aamir ini kemudian ditafsir oleh Imam al-Nawawi dalam kitabnya, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, beliau berkata :
وَمَعْنَاهُ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ مِنْ أَهْلِهِ الْمُحَقِّقِينَ الْوَارِعِينَ قَبْلَ ذهابهم ومجئ قَوْمٍ يَتَكَلَّمُونَ فِي الْعِلْمِ بِمِثْلِ نُفُوسِهِمْ وَظُنُونِهِمْ التى ليس لها مستند شرعي
Jelas nya, menuntut lah ilmu dengan bersungguh-sungguh kepada ahlinya yang benar-benar ahli dan ulama yang shalih, sebelum kalian berada di masanya orang orang yang berbicara ilmu hanya bermodalkan prasangka tanpa sanad secara syara’iyah.
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa belajar agama tanpa guru dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam ajaran yang tidak benar. Mempelajari ilmu agama Islam tanpa guru juga akan menyebabkan kebingungan dalam pemahaman serta melanggar dalam aturan agama.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan
فكذلك المريد يحتاج إلى شيخ وأستاذ يقتدى به لا محالة ليهديه إلى سواء السبيل فإن سبيل الدين غامض وسبل الشيطان كثيرة ظاهرة فمن لم يكن له شيخ يهديه قاده الشيطان إلى طرقه لا محالة
Demikian juga murid membutuhkan guru dan ustadz yang diikuti secara pasti agar mereka menunjukkannya ke jalan yang lurus, karena jalan agama itu tersembunyi, sedangkan jalan-jalan setan banyak dan nampak. Barangsiapa yang tidak mempunyai guru yang memberi petunjuk, maka setan pasti akan menuntun ke jalannya.
Ibnu Siiriin, sebagaimana dikutip oleh al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab mengatakan, :
هَذَا الْعِلْمُ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ:
Ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.
Mengutip ilmu agama dari informasi media sosial harus dapat mengetahui referensi narasi yang di sampaikan. apa bila menemukan kejanggalan maka datanglah ke yang mempunyai ahli dalam bidang nya untuk memverifikasi dan dijadikan sanad serta guru dalam bidang ilmu agama dikarenakan bahayanya orang memahami ilmu dengan tanpa seorang guru, seperti yang di sampaikan oleh ulama sufi, Imam Syekh Ahmad Ali al-Rifa’i
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan"
(Hanafi(






