BREAKING NEWS

Nobar Film “Pesta Babi” dan Diskusi Interaktif Angkat Isu Krisis Ekologi di Tanah Papua


SORONG // Pesta Babi bukan sekedar dokumenter tayang Film melainkan membongkar kejahatan yang diciptakan negara terhadap masyarakat adat Papua Selatan. Dalam film dokumenter ini terlihat jelas bahwa ada relasi-relasi yang dibangun oleh investor melalui tangan-tangan struktural untuk memuluskan dan melegalkan Proyek Strategis Nasional di Merauke.


Kota Sorong, Papua Barat Daya  Sejumlah komunitas pemuda, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang dirangkaikan dengan diskusi interaktif bertema “Krisis Ekologi di Tanah Papua”, berlangsung di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Rabu (13/5/2026).


Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi dan refleksi bersama terkait kondisi lingkungan hidup di Tanah Papua yang dinilai semakin memprihatinkan akibat eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, pertambangan, hingga kerusakan ekosistem yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat adat.


Dalam pemutaran film Pesta Babi, peserta diperlihatkan berbagai realitas sosial dan lingkungan yang terjadi di Papua. Film tersebut menggambarkan hubungan erat masyarakat adat dengan alam serta ancaman yang muncul akibat krisis ekologi yang terus meluas.


Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang menghadirkan sejumlah narasumber kompeten diantaranya Greenpeace Global Head of Forest Indonesian campaign, pihak gereja, volunteer Greenpeace Indonesia Basis Sorong, lainnya. 


Dalam diskusi tersebut, para peserta diajak untuk lebih memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan, tanah, dan sumber daya alam Papua sebagai warisan generasi mendatang.


Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia Kiki Taufik, menyampaikan bahwa krisis ekologi di Papua bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan hak hidup masyarakat adat, keberlangsungan budaya, dan masa depan generasi muda Papua.


"film tersebut  kita melihat bagaimana proses pembukaan hutan yang merupakan ruang hidup masyarakat adat di Papua yang terjadi dan ini,  kita bisa lihat bagaimana  perjuangan  masyarakat adat yang sangat berat,  ternyata kolonialisme itu terjadi di depan mata kita," ujarnya.


Menurutnya sistem kolonialisme Indonesian Bukan hanya  zaman perjuangan kemerdekaan  tetapi ketika pun merdeka seperti ini,  tanah Papua, dimana  tanah adat yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah Papua Selatan, diambil alih untuk kepentingan proyek strategi nasional, mengakibatkan mereka kehilangan ruang hidup.


"Melalui diskusi tersebut ia nilai anak-anak muda punya konsentrasi yang cukup sangat berempati  berjuang menyuarakan ketidakadilan  untuk tanah adat, Mudah-mudahan  film diputar, banyak yang memahami kondisi yang terjadi di belahan bumi lainnya terutama tanah Papua.


Ia menegaskan Papua adalah paru-paru dunia yang harus dijaga bersama. Ketika hutan rusak, maka kehidupan masyarakat adat juga ikut terancam,” ujarnya 


Sementara itu Devy Sentuf, seorang sukarelawan (volunteer) dari Greenpeace Indonesia Basis Sorong, mengatakan Perempuan Papua memiliki peran penting dalam menjaga hutan dan alam karena hutan adalah sumber kehidupan masyarakat adat. 


Dari hutan kami memperoleh makanan, obat-obatan, air bersih, dan mempertahankan budaya yang diwariskan leluhur. Karena itu, menjaga hutan Papua berarti menjaga kehidupan orang Papua sendiri.


"Saya mau menjelaskan saya punya perjalanan, sebenarnya ini berat karena aktivis lingkungan dan juga sudah berhadapan langsung dengan situasi-situasi yang saya lihat  hari ini, Apalagi yang dihadapi itu paling banyak perempuan.


Kondisi Hari ini katanya, dampak pembabatan  hutan adat lahan skala besar, Melihat situasi Papua yang bukan hanya soal hutan, tapi mama-mama yang ada ketergantungan kehidupan di hutan, perempuan Papua kehilangan hutan dan  kehilangan identitas.


Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini, kami ingin mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peduli terhadap krisis ekologi yang sedang terjadi di Tanah Papua. Kerusakan hutan akibat eksploitasi alam memberikan dampak besar bagi perempuan dan anak-anak di kampung-kampung.


Kami berharap pemerintah, perusahaan, dan seluruh pihak dapat bersama-sama melindungi hutan Papua serta menghormati hak-hak masyarakat adat. Hutan Papua bukan hanya milik hari ini, tetapi warisan untuk generasi mendatang,” ujar perempuan Papua


Kegiatan nobar dan diskusi ini mendapat antusias dari peserta yang hadir. Mereka berharap kegiatan serupa terus dilakukan sebagai sarana pendidikan publik dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup di Tanah Papua.


Selain menjadi ajang menonton film, kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun solidaritas dan kepedulian bersama dalam menghadapi berbagai persoalan ekologi yang tengah terjadi di Papua, khususnya di wilayah Papua Barat Daya. 

(Reporter Eskop Wisabla)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar